Tweak

InsaneJournal

Tweak says, "dia duit"

Username: 
Password:    
Remember Me
  • Create Account
  • IJ Login
  • OpenID Login
Search by : 
  • View
    • Create Account
    • IJ Login
    • OpenID Login
  • Journal
    • Post
    • Edit Entries
    • Customize Journal
    • Comment Settings
    • Recent Comments
    • Manage Tags
  • Account
    • Manage Account
    • Viewing Options
    • Manage Profile
    • Manage Notifications
    • Manage Pictures
    • Manage Schools
    • Account Status
  • Friends
    • Edit Friends
    • Edit Custom Groups
    • Friends Filter
    • Nudge Friends
    • Invite
    • Create RSS Feed
  • Asylums
    • Post
    • Asylum Invitations
    • Manage Asylums
    • Create Asylum
  • Site
    • Support
    • Upgrade Account
    • FAQs
    • Search By Location
    • Search By Interest
    • Search Randomly

tokie ([info]tokie) wrote,
@ 2008-11-26 15:47:00

Previous Entry  Add to memories!  Tell a Friend!  Next Entry
Current location:Office
Current mood: accomplished
Current music:none
Entry tags:fanfiction, kinki kids

Kimi wa karma part 1
Tittle: Kimi wa Karma (part 1 of 4)
Rated: PG
Beta: Self Beta
Language: Indonesian
Fandom: KinKi Kids (well part of it i guess XD)
Notes: because I said that i allowed it to publish and a man has to keep on her promise XD so here it is, although it's weird and it;s not even can be called a proper fic (I callled this plot elaboration) but it's done and here it is my first indonesian fic.

Ini adalah sebuah cerita tentang Kochiro , sang putra mahkota istana dan Tsuyoko , anak pedagang pakaian, yang bertemu secara tidak sengaja ketika Tsuyoko sedang berenang di danau disebelah istana . Pertemuan mereka ditandai dengan lemparan batu dari Tsuyoko karena dia mengira pangeran itu si tukang pencuri pakaian dan seorang mesum. Padahal pangeran itu hanya berusaha untuk mengistirahatkan diri dari segala pressure istana dan memang sang pengeran suka melamun di depan danau tersebut. Memang pada awalnya mereka bertengkar tapi akhirnya mereka berteman karena mau tidak mau , mereka harus berbagi danau tersebut.


Walaupun Tsuyoko tau kalo Kochiro itu seorang pangeran, dia tidak pernah sungkan untuk memukul Kochiro.Danau tersebut adalah dunia kecil mereka berdua dan Kochiro pun tak pernah memakai statusnya untuk menghentikan Tsuyoko yang suka bersikap seenaknya. Kochiro kagum karena ada orang yang berani mengemukakan idenya secara blak blakan tanpa takut atas statusnya. Sampai suatu hari Tsuyoko tidak datang kembali ke danau tersebut. Kochiro tetap datang ke danau tersebut sampai 2 hari berturut turut Tsuyoko tetap tidak datang. Kochiro mulai merasa kehilangan dan khawatir tapi dia tidak tau dimana rumah Tsuyoko . Maka ketika ada waktu luang Kochiro menyamar dan mendatangi toko pakaian satu persatu yang ada di kota.

Ketika Kochiro menemukannya ternyata Tsuyoko sudah harus kerja membantu keluarga karena Ayahnya sakit sakitan jadi dia sudah tidak bisa main main lagi di danau. Kochiro yang mendengarnya langusng ingin memboyong Tsuyoko ke istana dan memperkerjakannya untuk menemaninya, karena dia sangat suka dengan waktu yang mereka habiskan bersama. Tapi Tsuyoko  tidak mau, dan dia mengingatkan Kochiro kalo membawa masuk tsuyoko ke istana pasti membawa kecurigaan orang orang istana. Kochiro mengalah dan sebagai gantinya Kochiro tidak menghabiskan waktunya di danau tapi di Ia menghabiskan waktunya di toko Tsuyoko.

Tsuyoko suka mengeluh kalau Kochiro yang tidak punya naluri Fashion sama sekali hanya menggangu Tsuyoko dengan keberadaanya. Tetapi tsuyoko sesungguhnya seneng karena ditemani menjaga toko karena biasanya Tsuyoko harus menjaga toko sendirian karena ibunya menjaga sang ayah. Setiap waktu makan siang pasti Kochiro akan datang membawa snack snack kecil untuk Tsuyoko dan sebagai gantinya Kochiro disuguhkan masakan yg dibuat Tsuyoko untuk makan siang.



Sampai pada akhirnya Ayah Tsuyoko tau kalau ada anak lelaki dengan baju lusuh dan tidak jelas asalnya suka datang ketokonya setiap hari. Dia memarahi Kochiro karena dia berpikir bahwa Kochiro suka menganggu anaknya dan nyaris di lempar dengan sapu. Tsuyoko pun dengan cepat menahan Ayahnya dan menjelaskan bahwa Kochiro sebenarnya adalah temen Tsuyoko  Ayahnya tidak jadi memukul Kochiro tetapi Ia mengingatkan anaknya kalau dia harus mencari lelaki yang lebih baik daripada gelandangan jalanan. Tsuyoko hanya cemberut walaupun sebenarnya Ia ingin tertawa dan dia menegaskan pada Ayahnya kalau mereka itu hanyalah teman. Karena kejadian itu, kochiro malah makin membara untuk menyampaikan perasaanya. Ia telah jatuh hati kepada Tsuyoko. Tetapi memang dasarnya kochiro itu bodoh untuk hal hal seperti ini. Dia malah dikerjain Tsuyoko yang sebenernya sudah tau. Inginya mennyampaikan perasaan malah akhirnya Kochiro hanya dapat berputar putar di depan toko sampai malam

Sementara di istana sudah gaduh karena setiap makan siang, sang pangeran selalu menghilang  walaupun tidak mengganggu pekerjaan tapi sudah membuat seluruh istana khawatir
Pertimbangan kerajaan untuk hubungan diplomasi dengan negara tetangga, Kochiro akan dijodohkan dengan putri Tomoyo dari negara tetangga untuk itu Kochiro harus mulai serius menangani masalah negara.Pertimbangan ini diutarakan oleh sang raja kepada Kochiro. Kochiro tidak dapat menolak dan hanya dapat mengangguk ketika akan dipertemukan dengan Tomoyo. Kochiro pun memberitahu Tsuyoko kalo dia tidak dapat datang ke toko untuk sementara waktu. Tsuyoko hanya tersenyum dan menyuruh Kochiro untuk melakukan pekerjaanya sebaik baiknya
.

Sang putri dari negara tetangga pun datang ke negara mereka dan Kochiro sebaga putra mahkota menemani sang putri Tomoyo selama kunjungannya tersebut. Keberadaan Tomoyo malah membuat Kochiro semakin teringat dengan Tsuyoko, walaupun sifat mereka berbeda, dan making meyakinkan Kochiro akan perasaannya sendiri. Ketika putri  Tomoyo kembali ke negaranya, Kochiro dengan langkah pasti mengunjungi toko Tsuyoko pada malam itu juga lengkap dengan pakaian kerajaanya dia meminta bertemu dengan Tsuyoko. Orang tua Tsuyoko yang membukakan pintu malah takut, mereka mengira  anak mereka akan diambil sebagai selir ke keluarga kerajaan.Mereka pun menyembah nyembah memohon supaya Tsuyoko tidak diambil dan dibiarkan tinggal di toko itu. Kochiro berusaha meyakinkan kalau dia hanya ingin bertemu Tsuyoko dan tidak bermaksud apa apa. Tsuyoko yang mendengar hiruk pikuk pun akhirnya keluar untuk melihat ada keributan apa sambil membawa sapu sebagai senjata untuk berjaga jaga.

Melihat  Kochiro yang bersusah payah meyakinkan orang tua Tsuyoko untuk berdiri,  Tsuyoko menghampiri mereka dan memberitahu ke orang tuanya klo dia sudah berbohong dan bahwa gelandangan yang sering ke toko itu adalah Kochiro. Orang tua Tsuyoko tetap kawatir tapi akhirnya mereka diijinkan untuk bertemu berbicara. Ketika orang tua Tsuyoko sudah masuk ke dalam, Kochiro langsung memegang tangan Tsuyoko dan mengutarakan perasaanya. Tsuyoko tersenyum lembut dan berkata bahwa dia sudah mengetahuinya. Dan dia juga berkata kalau memang pertama dia pikir Kochiro itu seorang pangeran yang aneh tapi semakin lama dia semakin merasa nyaman dengan Kochiro. Tsuyoko tersenyum lagi, memeluk kochiro yang sudah tersenyum bahagia. Dan ketika Tsuyoko melepaskan pelukannya, mata Tsuyoko berkaca kaca, Kochiro yang bingung bertanya kenapa. Tsuyoko berkata kalau mereka tidak boleh bertemu lagi dan menyuruh kochiro untuk kembali lagi ke istana dan melupakan Tsuyoko.

Kochiro yang bingung setengah mati, menjadi panik dan menggegam tangan Tsuyoko bertanya kenapa dan kenapa. Tsuyoko pun mengingatkan kalau putri Tomoyo adalah calon permaisuri dan Kochiro ada lah putra mahkota yang harus mengemban tugas negara, sementara Tsuyoko hanyalah anak pedagang kecil di kota.  Status Tsuyoko tidak mencukupi untuk dijadikan seorang permaisuri dan Tsuyoko tidak mau kalau kochiro menjadikan dia sebagai selir dan sebelum semuanya terlambat mereka harus berhenti. Air mata Tsuyoko mulai berjatuhan sementara kochiro hanya bisa terdiam. Tsuyoko berdiri dan mengecup bibir kochiro dan menyuruhnya pulang. Kochiro menghapus air mata tsuyoko dan menggegam tanganya. Dan berkata bahwa dia adalah seorang pangeran, dia pasti bisa berbuat sesuatu, pastilah ada jalan untuk mereka dan Tsuyoko tidak boleh menyerah begitu saja. Sebelum Tsuyoko dapat berkata apa apa lagi, Kochiro sudah menciumnya dan berlari ke luar sambil berteriak, besok dia pasti dateng kembali seperti biasa. Tsuyoko hanya bisa tertenggun, walaupun dia tau akhirnya pasti mereka tetap harus berpisah tapi dia senang ternyata kochiro menyukainya sejauh itu dan dia pun berjanji untuk tetap mencoba.

Kochiro kembali ke istana dan langsung melapor kepada sang raja kalau dia sudah punya idaman hati dan itu bukanlah putri Tomoyo. Ia meminta kepada sang raja untuk diperbolehkan meneruskan niatnya itu. Sang raja hanya menaikan alisnya karena anaknya yang tidak pernah bersikap egois untuk dirinya sekarang tiba tiba saja meminta hal seperti ini. Sang Raja mengingatkan anaknya kalau cinta dan perkerjaan tidak bisa bersanding bersama dan tuganya sebagai putra mahkota itu lebih penting daripada perasaanya.Tapi Kochiro bersikukuh, dia akan tetap melakukan tugasnya sebagai putra mahkota dengan baik bahkan lebih baik kalau Tsuyoko diijinkan bersamanya. Melihat kesungguhan anaknya sang raja pun tergugah dan menyuruhnya untuk mempertemukannya dengan anggota kerajaan. Kochiro pun menyanggupi dan akan mebawa Tsuyoko ke istana pada minggu ke 3 dalam bulan itu.

Keesokan harinya Kochiro kembali datang pada saat makan siang seperti biasa dan Tsuyoko seperti tidak terjadi apa apa menyambutnya seperti biasa. Walaupun tetap saja terasa perbedaan, Kochiro mulai lebih berani membelai rambut Tsuyoko dan senyum Tsuyoko terlihat lebih bersinar dibanding biasanya. Kochiro pun akhirnya memberitahu Tsuyoko bahwa sang raja setuju untuk menemui tsuyoko pada minggu 3.Melihat Kochiro sangat bahagia seperti itu, Tsuyoko pun menyanggupi dan berjanji pada dirinya dia akan berusaha sebaik baiknya supaya mereka bisa bersama.

Ketika Kochiro kembali ke instana, Tsuyoko pun berbicara kepada orang tuanya untuk merestui mereka. Orang tua Tsuyoko sebetulnya tidak menyetujui Tsuyoko bersama dengan kochiro karena jika mereka menikah nanti Tsuyoko akan masuk istana dan meninggalkan mereka tapi karena mereka melihat betapa Tsuyoko bahagia bersama kochiro mereka pun mengalah dan memutuskan toko mereka akan dditeruskan oleh sepupu mereka dan teman masa kecil Tsuyoko, Junya.

Ketika minggu ke 3 tiba, Tsuyoko walaupun takut dengan tegar pergi ke istana bersama dengan Kochiro. Kochiro berpenampilan sopan dan serius tetapi Tsuyoko dapat melihat ujung mulut Kochiro yang agak naik karena menahan senyum dan tangan Kochiro yang tidak melepaskan gegamanya dari tangan Tsuyoko. Tsuyoko tersenyum dan perlahan lahan menghembuskan napasnya merasa dirinya perlahan lahan tenagn kembali. Kochiro meremas tanganya dan mengangguk ke tsuyoko, memberi signal bahwa Kochiro akan terus disampingnya

Ketika mereka sampai di ruangan pertemuan, Kochiro melepaskan tangan Tsuyoko dan berlutut didepan pintu mempersiapkan dirinya untuk menghadap. Tsuyoko pun kemudian mengambil tempatnya bersimpuh di belakang kochiro dan dengan sebuah anggukan dari Tsuyoko, Kochiro pun mengetuk pintu itu. Kochiro mengumumkan bahwa mereka telah tiba dan membuka pintu tersebut, dan Tsuyoko dengan cepat menyembah sampai dahinya menyentuh lantai. Ketika suara itu menyuruh mereka masuk, dengan kepala tertunduk Tsuyoko mengkuti Kochiro memasuki ruang pertemuan tersebut. Ketika Kochiro berhenti dan kembali bersimpuh, Tsuyoko pun dengan cepat mengambil tempat di belakang Kochito dan menyembah kembali.

Sang raja menyuruhnya untuk menunjukan mukanya, Tsuyoko pun mengikuti perintah tersebut dengan hati hati. Tsuyoko akhinya dapat melihat bahwa ruangan tersebut telah penuh oleh para penjabat penjabat istana. Tsuyoko pun terkejut, tapi dengan cepat dia menenangkan diri dan duduk tegak di ruangan tersebut. Punggung tegap Kochiro yang duduk disebelah kanan depannya membuatnya agak tenang. Para penjabat istana banyak yang berdecak, Tsuyoko tidak mengerti apakah itu pertanda baik atau buruk, tetapi Kochiro tetap diam dan dengan tegap menatap ke depan. Tak lama kemudian, salah satu penjabat istana pun memulai perdebatanya , semuanya tentang Tsuyoko, tentang orang tuanya, tentang masa lalunya, tentang  keturunannya. Tsuyoko mengigit bibirnya, dia tak pernah merasa begitu terhina di nilai didepan umum, tetapi dia tetap duduk tegak,semuanya demi Kochiro.

Kochiro pun hanya bisa terpaku di tempatnya, perdebatan para penjabat inti istana hanya boleh dihentikan oleh sang raja. Dia hanyalah seorang putra mahkota dan para penjabat istana itu sedang menilai calon permaisurinya, Kochiro tidak boleh bersuara walaupun dia ingin berteriak untuk menghentikan mereka. Sang raja pun akhirnya menghentikan para penjabat istana dan dia bertanya kepada tsuyoko dengan suara yg lembut, apakah tsuyoko mengerti bahwa kochiro ada seorang putra mahkota dan apakah dia tahu apa yang harus dihadapinya sebagai seorang permaisuri.

Tsuyoko terkejut ketika sang raja bertanya langsung padanya dan dengan agak bergetar dia menjawab dan mengangguk, Tsuyoko mengerti dengan semua tugas yang akan diembannya. Sang raja pun tersenyum dan menyuruh Kochiro membawa Tsuyoko ke ruang istirahat untuk menunggu mereka. Kochiro menunduk memberi hormat kepada raja dan dengan sopan keluar bersama Tsuyoko. Dia mengamit tangan Tsuyoko ketika mereka sudah diluar dan dengan lembut dia merengkuh pundak Tsuyoko dan menariknya kepelukannya.

Kochiro meminta maaf, karena dia de dapat melindungi Tsuyoko dari para penajbat istana tersebut dan Kochiro pun tersadar dengan beban berat yang akan diberikan kepada Tsuyoko jika ia menjadi permaisuri. Tsuyoko hanya menggeleng dan tersenyum, Kochiro sebagai pangeran mahkota yg baik harus bertingkah laku sebagai layaknya putra makhota yg dihormati dan Tsuyoko pun sudah mengerti apa yang akan dihadapinya ketika dia menerima ajakan kochiro untuk pergi menghadap sang raja. Kochiro hanya dapat memeluk Tsuyoko lebih erat, dia merasa tersentuh. Tsuyoko selalu bertindak menurut keinginannya tapi dihadapan para penjabat istana Tsuyoko benar benar berkorban untuk dirinya.
Kochiro membawa Tsuyoko ke ruang istirahat dan menyruh pelayan istana untuk mebawakan snack manis ke ruangan tersebut. Tsuyoko yang melihat hidangan snack manis ditaruh di depannya itu pun tertawa dan mendorong Kochiro sebelum dengan cepatnya dia mencomot dango yang ada di depannya. Kochiro pun tersenyum dan mengelak ketika dango yg di tangan Tsuyoko mengarah ke depan mukanya. Tak lama, ketika semua dango sudah berpindah tempat ke perut Tsuyoko dan dia dengan asyiknya bermain shamisen sementara Kochiro duduk dengan tenang mendengarkan Tsuyoko yang sangat berkonsentrasi bermain shamisen. Kochiro berpikir betapa damainya saat saat seperti ini dan sangatlah bagus bila Ia dapat melewati masa depannya seperti ini.
Utusan raja pun datang, meminta Kochiro dan Tsuyoko untuk kembali menemui mereka. Tsuyoko langsung berhenti memainkan shamisennya, dengan tegang berdiri dan merapikan kimononya dengan tangan yang bergetar. Kochiro mendekatinya, berbisik bahwa dia akan disampingnya menggegam tangan Tsuyoko dan menariknya menghadapi sang raja.
Ketika mereka kembali ke ruangan itu, Kochiro tidak duduk didepanya seperti saat pertama mereka datang ke tempat itu, tetapi Kochiro duduk disebelah kanannya dan bersikap wajar layaknya bahwa itu adalah hal yang biasa, bahwa mereka sederajat. Tsuyoko bahagia tetapi dia tetap merasa kawatir, apa yang akan dikatakan oleh para penjabat istana. Tsuyoko pun bergerak mundur ke belakang tetapi dengan cepat Kochiro menarik tangan Tsuyoko untuk tetap duduk ditempatnya semula. Tsuyoko dapat melihat pandangan tak senang dari para penjabat istana dan dia berusaha untuk menarik tanganya tetapi gegaman kochiro malah semakin erat dan dia pun menyuruh Tsuyoko untuk tetap duduk disitu.

Sang raja yg melihat itu pun mengangguk, anaknya memang sudah menentukan pilihanya, tetapi urusan kerajaan tetaplah lebih penting. Dia pun mengumumkan keputusan mereka, bahwa Tsuyoko akan diuji dan dilatih di istana selama sebulan bila memang dia pantas, maka sang raja akan merestui mereka dan meberikan glear kebangsawanan bagi keluarga Tsuyoko. Para penjabat istana kembali berdecak tak puas atas keputusan raja tetapi sang raja sudah memutuskan dan mereka tidak dapat berbuat apa apa dang mengikutinya.Kochiro tersenyum dan dengan sigap menyembah kepada raja sebagai ucapan terima kasihnya Tsuyoko pun dengan cepat mengikutinya. Ketika ia menempelkan kepalanya ke lantai, dengan cepat dia menghapus air matanya. Ia akan diuji dan dilatih di istana, hidupnya akan berubah dan kebebasannya akan segera berakhir, tapi demi kochiro dia harus bisa melaluinya.



Continue to part 2


(Post a new comment)


Home | Site Map | Manage Account | TOS | Privacy | Support | FAQs